Kamis, 01 September 2016

Baca Online Light Novel Sword Art Online Jilid 1 : Aincrad Bab 16

                                 Bab 16


Asuna memberitahuku bahwa dia sedang memonitor peta saat menungguku di Grandum.
Pada saat sinyal Godfree menghilang, dia lari keluar dari kota dan melewati jarak lima kilometer yang membutuhkan kami waktu satu jam perjalanan hanya dalam lima menit. Saat aku menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang melebihi batas dari dexterity stat, dia menjawab dengan senyuman kecil:
“Ini adalah kekuatan cinta.”
Setelah kami kembali ke guild HQ, kami memberitahu Heathcliff mengenai apa yang terjadi dan bertanya apakah kami dapat meninggalkan guild untuk sementara waktu. Saat Asuna menjelaskan alasannya adalah “ketidakpercayaan kepada guild”, Heathcliff berpikir dalam diam untuk beberapa waktu, tetapi tetap memberikan kita ijin. Lalu, dia mengatakan satu hal terakhir dengan senyum misterius di wajahnya:
“Tetapi kalian akan kembali ke medan perang tidak lama lagi.”
Pada saat kami meninggalkan HQ, hari sudah sore. Kami bergandengan tangan dan berjalan bersama menuju teleport gate plaza.
Tiada seorangpun dari kami yang berkata.
Saat kami berjalan di antara bayang-bayang hitam menara-menara besi dan cahaya oranye yang datang dari luar kastil yang melayang ini, aku bertanya-tanya darimanakah asal kebencian Kuradeel.
Ada banyak orang yang senang melakukan kejahatan di dunia ini. Mulai dari pencurian dan perampokkan hingga pembunuhan berdarah-dingin dari guild «Laughing Coffin» seperti Kuradeel; rumor menyebutkan bahwa jumlah dari pemain kriminal telah melebihi seribu orang. Banyak orang menganggap mereka sebagai sesuatu yang wajar seperti para monster sekarang.
Tetapi ketika aku memikirkan mengenai hal ini, aku masih merasa bahwa mereka adalah kelompok yang sangat aneh. Seharusnya semua orang sudah tahu bahwa melukai pemain lain adalah sebuah perbuatan yang pastinya akan mengurangi kemungkinan meninggalkan permainan ini.
Tetapi setelah bertemu dengan Kuradeel, aku merasa bahwa hal ini tidak berlaku untuknya. Dia tidak membantu ataupun menghalangi penyelesaian permainan ini ; dia hanya sekedar berhenti berpikir .Tidak mengenang masa lalu ataupun menantikan masa depan, dia hanya sekedar berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginannya yang tanpa akhir, yang mengakibatkan pertumbuhan dari keinginan-keinginan jahatnya—
Lalu bagaimana denganku? Aku tidak dapat dengan yakin mengatakan bahwa aku telah dengan serius berfokus untuk menyelesaikan permainan ini. Akan menjadi lebih akurat untuk menyatakan bahwa aku biasanya menjelajahi labirin-labirin hanya untuk experience points. Bila aku bertarung hanya untuk memperkuat diriku sendiri, untuk merasa lebih superior, lalu disuatu tempat jauh di dalam diriku, apakah aku juga tidak ingin dunia ini berakhir—?
Tiba-tiba, terasa seakan-akan plat besi di bawah kakiku mulai tenggelam. Aku berhenti berjalan dan mempererat genggaman tanganku pada tangan kanan Asuna, yang telah aku pegang selama ini.
"…?"
Asuna memiringkan kepalanya dan menatapku. Aku menundukkan kepalaku dan berbicara seperti aku berbicara pada diriku sendiri:
“…tidak peduli apapun yang terjadi...aku akan memastikan bahwa kau...kembali ke dunia itu...”
“…”
Kali ini Asuna memperkuat genggaman tangannya.
“Saat waktunya tiba,kita akan kembali bersama.”
Dia menampakkan senyumnya saat dia selesai mengatakan hal itu.

Kita telah tiba di teleport gate plaza tanpa menyadarinya. Hanya sedikit pemain yang berjalan disekitar area ini, berkerumun bersama melawan angin dingin yang mengisyaratkan datangnya musim dingin.
Aku berbalik dan menatap langsung Asuna.
Aku berpikir bahwa kehangatan yang memancar keluar dari keinginan kuatnya adalah satu-satunya cahaya yang menuntunku ke arah yang benar.
"Asuna...malam ini...aku ingin bersamamu...”
Aku mengatakan hal ini tanpa menyadarinya.
Aku tidak ingin berpisah dengannya. Pertempuran sebelumnya telah menimbulkan rasa takut mati yang mengerikan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, sesuatu yang tidak dapat dilupakan hingga saat ini.
Aku pasti akan mengalami mimpi buruk bila aku tidur sendirian malam ini. Aku akan memimpikan kegilaan orang itu, pedangnya yang menusuk masuk kedalam tubuhku, dan perasaan saat menusukkan tangan kananku ke dalam tubuhnya; aku yakin mengenai hal ini.
Asuna menatapku dengan mata yang terbuka lebar, seakan-akan dia mengerti alasan dibalik permintaanku—
Lalu,dengan kedua pipinya merona merah, dia mengangguk pelan.

Rumah Asuna di Salemburg, yang sekarang aku kunjungi untuk kedua kalinya, masih tetap dihiasi dengan megah; tetapi kali ini rumah ini menyambutku dengan kehangatan yang menyenangkan. Barang-barang yang diatur didalam rumahnya menunjukkan cita rasa tinggi dari pemiliknya. Tetapi walaupun begitu, Asuna berkata:
“U-Uwa— Berantakan sekali disini. Aku jarang mengunjunginya akhir-akhir ini dan...”
Dengan tertawa “hehe”. Dia tersenyum malu-malu dan segera merapikan barang-barang yang berserakan.
“Aku akan segera memasakkan makan malam. Bacalah koran atau sesuatu sementara menunggu.”
“Ah, okay.”
Aku menyandarkan diri pada sofa setelah melihat Asuna melepaskan perlengkapan tempurnya, mengenakan celemek, dan menghilang ke dapur. Lalu aku mengambil sebuah koran besar yang ada di meja. Walaupun kami menyebutnya koran, benda ini hanyalah kumpulan dari rumor-rumor dari para pemain yang bertukar informasi. Tetapi semenjak dunia ini kekurangan bentuk hiburan, koran ini menjadi sumber media penting dengan banyak pelanggan. Koran ini hanya memiliki empat halaman,dan aku hanya melihat sekilas sambil lalu pada halaman pertama sebelum melemparnya kesamping karena kesal. Hal ini karena tajuk berita halaman utamanya adalah mengenai duel antara Heathcliff dan aku.
[Pengguna teknik baru Dual Blades dihancurkan oleh Holy Sword]
Dibawah tajuk berita adalah gambar dariku terbaring lemah di tanah didepan Heathcliff, yang diambil oleh Record Crystals. Seseorang dapat berkata bahwa aku hanya menambah halaman lain dari legenda tak-terkalahkan dari Heathcliff.
Yah,mungkin mereka akan berhenti banyak mengangguku seperti sebelumnya bila harapan mereka terhadap kemampuanku menurun... Aku membantu diriku sendiri menemukan alasan yang mudah diterima. Lalu, saat aku mulai melihat-lihat inventory list-ku, sebuah aroma yang menggoda merebak keluar dari dapur.
Menu makan malam ini adalah sebuah steak yang dibuat dari daging monster yang seperti sapi dan disajikan dengan saus kecap spesial buatan Asuna. Walaupun peringkat bahan-bahannya tidak terlalu tinggi, pembumbuannya sangat sempurna. Asuna memandangku dengan senyum lebar saat aku memasukkan daging kemulutku.
Saat kami duduk berseberangan dari yang lain pada sofa dan meminum teh setelah menyelesaikan makan malam, Asuna menjadi sering berbicara untuk suatu alasan tertentu. Dia berbicara tanpa akhir mengenai berbagai topik seperti jenis senjata yang dia sukai dan lantai mana yang memiliki lokasi tamasya yang terkenal.
Pada awalnya aku mendengarkan dia dengan terkejut, lalu kemudian Asuna tiba-tiba terdiam, yang membuatku khawatir. Dia terduduk kaku dan memandangi cangkir tehnya seakan-akan dia berusaha untuk menemukan sesuatu. Ekspresi wajahnya sangat serius, hampir seperti dia bersiap-siap untuk bertarung.
“…hey, ada apa...”
Tetapi sebelum aku dapat selesai berbicara, Asuna meletakkan cangkir tehnya dengan keras di meja, lalu berdiri tegak dari tempat duduknya dan mengumumkan:
“...okay!”
Dia berjalan kearah ambang jendela, menyentuh dinding untuk membuka Room Control Menu, dan tiba-tiba mematikan semua lampu. Kegelapan segera menyelimuti ruangan; kemampuan penunjang dari scan skill-ku secara otomatis berfungsi dan menggantikan penglihatan normalku dengan mode penglihatan malam.
Ruangan ini diwarnai oleh cahaya biru redup, dan Asuna bercahayakan warna putih yang berasal dari cahaya lampu lentera yang datang dari jendela. Walaupun aku bingung dengan perilakunya, kecantikannya tetap membuatku menahan nafas.
Rambut panjangnya yang nampak berwarna biru tua, tangan dan kaki semampainya, yang merentang keluar dari dalam jubahnya, semuanya memantulkan cahaya redup dan terlihat seakan-akan bercahaya.
Asuna berdiri terdiam di samping jendela untuk beberapa waktu. Aku tidak dapat melihat ekspresi wajahnya secara jelas karena dia telah menundukkan kepalanya. Dia juga telah meletakkan tangan kanannya pada dadanya dan tampaknya sedang ragu-ragu akan sesuatu.
Saat aku baru saja akan bertanya tentang apa yang sedang terjadi, Asuna mulai menggerakkan tangan kirinya. Ibu jari dan jari telunjuknya bergerak di udara, dan sebuah menu window tampak dengan sound effect yang menemaninya.
Dalam kegelapan berwarna biru ini, jemari Asuna bergerak disepanjang menu window yang berpendar ungu. Kelihatannya dia sedang memanipulasi menu sebelah kiri, yang mengendalikan perlengkapan pemain.
Segera setelah aku memikirkan hal itu, stocking sepanjang lutut yang digunakan Asuna menghilang, dan terlihat jelas lekukan-lekukan yang elegan dari kakinya didepan mataku. Jari jemarinya bergerak lagi, dan kali ini, jubah pendek satu jahitannya ditanggalkan. Mulutku pun terbuka lebar dan kedua mataku terbuka lebar; aku telah berhenti berpikir sepenuhnya.
Asuna sekarang hanya memakai pakaian dalamnya. Kain putih kecil yang hanya bisa menutupi dada dan pinggangnya.
“J-jangan...melihat kesini...”
Katanya, suara kecilnya gemetar. Tetapi walaupun dia berkata demikian, aku masih tidak dapat mengalihkan pandangan mataku.
Asuna mencoba untuk menutupi dadanya dengan kedua tangannya saat dia bimbang; tetapi setelah dia mengangkat kepalanya dan melihat langsung kepadaku, dia menurunkan kedua lengannya dengan anggun.
Sword Art Online Vol 01 - 242.jpg
Aku merasa sangat terkejut yang rasanya seperti jiwaku telah meninggalkan tubuhku dan hanya dapat melihatnya dengan pandangan kosong.
“Cantik” tidak dapat menjelaskan keindahannya. Kulitnya yang diwarnai dengan partikel-partikel berwarna biru langit terlihat sangat lembut dan mulus. Rambutnya terlihat seperti terbuat dari benang sutera terbaik. Dadanya berlekuk dengan sangat sempurna sehingga terlihat, dengan ironis, seakan-akan tidak ada graphic engine yang dapat menggambarkannya. Lekukan kakinya yang bermula dari pinggang langsingnya membuat seseorang berpikir tentang keanggunan dari seekor binatang liar.
Mustahil mempercayai bahwa penampilannya hanyalah sebuah gambar buatan 3D. Bila aku yang menggambarkannya, penampilannya seperti sebuah pahatan yang dibuat oleh Tuhan dengan kehidupan ditiupkan kedalamnya.
Data yang dikumpulkan oleh Nerve Gear yang berasal dari proses kalibrasi dari pemain menentukan bentuk tubuh dari avatar pemain. Dengan pemikiran itu, seseorang akan menyebut keberadaan dari tubuh yang sempurna itu sebagai sebuah keajaiban.
Aku tetap menatap tubuhnya yang nyaris tidak tertutupi seakan-akan jiwaku telah meninggalkan tubuhku. Bila Asuna tidak menutupi dirinya dengan kedua lengannya dan membuka mulutnya untuk berbicara, aku akan tetap berdiri seperti itu bahkan hingga satu jam kemudian.
Wajah Asuna terlihat sangat merah sehingga aku dapat melihatnya bahkan dalam kegelapan berwarna biru dari ruangan ini. Dia merendahkan kepalanya dan berbicara:
“K-Kirito-kun, lepaskan pakaianmu juga... Sangat me, memalukan untukku untuk melakukannya sendiri.”
Setelah mendengar hal itu, aku akhirnya menyadari arti dibalik tindakan-tindakan Asuna.
Dengan kata lain, dia mengartikan apa yang aku katakan — bahwa aku ingin bersamanya malam ini, dengan arti yang lebih mendalam dari apa yang aku maksudkan.
Segera setelah aku menyadari hal itu, aku terjatuh kedalam rasa panik yang tiada akhir. Sebagai hasilnya, aku melakukan kesalahan terburuk dalam seluruh hidupku hingga saat ini.
“Err…bukan, kamu tahu , aku berpikir... bahwa akan lebih baik, bila kita berada be-bersama di dalam sebuah ruangan malam ini...”
“Eh…?”
Setelah aku menjawab secara bodoh dengan jujur, Asuna-lah yang berdiri terkaku dengan mulutnya terbuka lebar kali ini. Lalu,dengan sebuah ekspresi dari kemarahan dan rasa malu yang hebat tersebar di seluruh wajahnya.
“Kau...kau...”
Kepalan tangan kanannya yang tergenggam erat mengungkapkan hawa membunuh yang nyaris terlihat.
“Bodoh--!!”
Kepalan tangan Asuna, yang telah melesat menuju ke kecepatan yang memanfaatkan seluruh dexterity stat-nya, terhenti sesaat sebelum menghantam wajahku oleh Crime Prevention Code dan mengeluarkan sebuah suara keras dan semburan dari percikan-percikan ungu sebagai gantinya.
“A-Ahh—! Tunggu!! Maafkan aku, maafkan aku! Lupakan apa yang aku katakan!”
Aku mencoba untuk menjelaskan sementara dengan panik melambai-lambaikan tangan kananku kepada Asuna, yang baru saja akan melemparkan tinjuan keduanya tanpa menghiraukanku sama sekali.
“Maafkan aku, aku salah!! Ta...tapi, lagipula, dapatkah kamu...seperti... dapat me-melakukannya...? Didalam SAO...?”
Asuna menurunkan sikap bertarungnya dan sedikit terkejut, walaupun tetap marah. Lalu dia bertanya:
“Kau,maksudmu kau tidak tahu...?”
“Tidak,aku tidak tahu...”
Lalu, ekspresi wajah Asuna berubah dari kemarahan menjadi rasa malu, sebelum dia kemudian menjelaskan dengan suara kecil:
“…jadi...dibagian option menu, jauh di bawah...disana ada pilihan yang disebut «Ethic Code Off».”
Itu adalah kali pertama aku pernah mendengar sesuatu seperti ini. Aku yakin hal ini tidak ada pada saat beta test, hal ini juga tidak pernah disebutkan didalam buku panduan. Untuk mengetahui bahwa hal ini adalah harga lain yang harus aku bayar untuk bermain solo dan tidak mempunyai minat lain selain bertarung.
Tetapi informasi ini menghasilkan pertanyaan baru yang tidak dapat aku tolak untuk aku pikirkan. Karena kemampuanku untuk berpikir jernih aku belum sepenuhnya pulih, secara tidak sadar aku mengucapkannya keras-keras:
“…apakah... apakah kamu pernah melakukannya sebelumnya...?”
Sekali lagi kepalan tangan besi Asuna meledak dalam percikan-percikan tepat di depan wajahku.
"T-tentu saja tidak, bodoh kamu—!! Aku hanya mendengarnya dari para gadis lain di dalam guild!!”
Aku segera berlutut di lantai didepannya dan meminta maaf tiada akhir. Dibutuhkan waktu beberapa menit sebelum aku berhasil menenangkannya.

Sebatang lilin diatas meja terus menyala; segaris cahaya tipis yang menyala darinya membuat kulit Asuna bependar sedikit sementara dia tertidur di lenganku. Aku menarikan salah satu jariku secara lembut dibagian punggungnya yang putih; kehangatan dan kelembutan yang kurasakan dari ujung jariku terasa sangat memabukkan.

Asuna perlahan membuka kedua matanya dan menatapku. Dia berkedip dua kali dan kemudian tersenyum.
“Maaf. Apakah aku membangunkanmu?”

“Yeah. Aku melihat sebuah mimpi yang aneh. Sebuah mimpi mengenai dunia nyata...”
Dia tetap tersenyum sementara dia mengusapkan wajahnya ke dadaku.
“Di dalam mimpi itu, aku sempat berpikir bahwa memasuki Aincrad dan bertemu denganmu hanyalah sebuah mimpi, dan aku merasa sangat takut. Aku lega....bahwa semuanya bukan mimpi.
“Kamu adalah seseorang yang aneh. Apakah kamu tidak mau kembali?”
“Tentu saja aku ingin. Aku ingin kembali, tetapi aku tidak ingin semua yang terjadi di sini untuk menghilang begitu saja. Walaupun... hal ini membutuhkan waktu lama untuk kita... tetapi dua tahun terakhir ini sangat berharga bagiku. Aku yakin akan hal itu sekarang.”
Asuna tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan menggenggam tangan kananku, yang kuletakkan diatas bahunya, lalu membawa tanganku ke dadanya dan memeluknya dengan erat.
“... Aku minta maaf, Kirito-kun. Aku seharusnya... Aku seharusnya menyelesaikannya sendiri...”
Aku menarik nafas lalu menghebuskannya dalam-dalam.
“Tidak...target Kuradeel, seseorang yang membuatnya seperti itu, adalah aku. Itu adalah pertarunganku.”
Aku mengangguk perlahan sementara aku menatap kedua mata Asuna.
Air mata terbentuk di matanya yang seperti kemiri sementara Asuna diam-diam menekan bibirnya kepada tangan yang dipegangnya. Aku dapat merasakan gerakan lembutnya.
“Aku juga akan... menanggungnya bersamamu. Setiap beban yang kau pikul, aku akan membawanya bersamamu. Aku berjanji, aku pasti akan melindungimu mulai saat ini...”
Ini adalah—
Kata-kata yang tidak dapat kuucapkan bahkan satu kalipun hingga sekarang. Tetapi pada saat ini, bibirku gemetar, dan aku dapat mendengar suara yang tersingkap keluar dari jiwaku.
“Aku juga.”
Suara yang sangat lemah bergema ke udara.
“Aku akan melindungimu juga.”
Walaupun ini adalah kata-kata yang sangat sederhana, aku telah mengatakannya dengan sikap yang secara menyedihkan tenang dan tidak dapat diandalkan. Aku tersenyum kecut saat aku memegang tangan Asuna dan berkata:
“Asuna... kau sangat kuat. Kamu jauh lebih kuat daripadaku...”
Setelah mendengar hal itu, Asuna berkedip beberapa kali dan kemudian tersenyum.
"Tidak, aku tidaklah kuat. Aku biasanya bersembunyi dibelakang orang lain di dunia nyata. Bahkan permainan ini bukanlah sesuatu yang aku beli.”
Dia tertawa seakan-akan dia baru saja memikirkan tentang sesuatu.
“Permainan ini adalah sesuatu yang kakak laki-lakiku beli, tetapi dia tiba-tiba harus pergi untuk urusan bisnis; jadi aku dapat bermain dengan permainan ini pada hari pembukaannya. Dia sangat kecewa karena itu. Dia pasti sangat marah sekarang karena aku telah memakainya selama dua tahun.”
Aku berpikir bahwa Asuna lebih tidak beruntung telah datang kemari menggantikan kakaknya, tetapi aku hanya mengangguk.
“...Kau lebih baik segera kembali dan meminta maaf.”
“Yeah... Aku perlu berusaha lebih keras...”
Tetapi suara Asuna melemah saat dia mengatakan hal ini, menundukkan pandangannya ke bawah seakan-akan dia takut akan sesuatu dan kemudian mendekatkann tubuhnya kepadaku.
“Umm...Kirito-kun, aku tahu bahwa hal ini berlawanan dengan apa yang baru saja aku katakan... tetapi bisakah kita meninggalkan garis depan untuk sementara waktu?”
“Hmm...?”
“Entah kenapa aku merasa takut... Kita akhirnya berhasil saling mengutarakan perasaan kita, jadi aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi lagi bila kita pergi ke garis depan segera sesudahnya... Mungkin aku hanya agak kelelahan.”
Aku mengusap rambut Asuna diam-diam dan mengangguk dengan sangat menurut yang mengejutkan diriku sendiri.
“Yeah, kamu benar... Aku juga agak lelah...”
Walaupun bila angka-angkanya tidak berubah, berbagai pertarungan yang kami jalani hari demi hari menimbulkan kelelahan yang tidak dapat dilihat. Contoh terutama mengenai hal ini adalah situasi seekstrim hari ini. Bahkan busur yanng kuat akan patah bila ditarik terlalu kuat. Kami pasti memerlukan istirahat.
Aku merasakan dorongan yang mendorongku untuk bertarung tanpa henti melayang menjauh. Kali ini, aku hanya ingin memperdalam hubungan yang terbentuk diantara kita berdua.
Aku memeluk Asuna, lalu membenamkan wajahku pada rambutnya yang seperti sutra dan berkata:
"Pada bagian tenggara dari lantai dua puluh dua, di antara hutan-hutan dan danau-danau... terdapat sebuah desa kecil. Tempat itu adalah tempat yang baik dan tanpa monster. Mereka menjual beberapa pondok di sana. Kita berdua dapat berpindah kesana bersama... dan kemudian...”
Asuna menatapku saat aku berhenti berbicara.
“Kemudian...?”
Aku berhasil menggerakkan lidahku yang membeku dan meneruskan kata-kataku.
"...mari, mari kita menikah.”
Senyuman sempurna yang ditunjukkan Asuna padaku saat itu, tidak akan kulupakan seumur hidupku.
“Okay...”
Dia mengangguk kecil sementara setetes besar air mata mengalir turun melewati pipinya yang kemerahan.

Baca Online Light Novel Sword Art Online Jilid 1 : Aincrad Bab 15

                                   Bab 15


“...Apa yang kau maksud dengan hal ini?”
Aku bertanya kepada Godfree secara perlahan.
“Hmm, aku sudah tahu apa yang telah terjadi diantara kalian berdua. Tetapi karena sekarang mulai saat ini kalian adalah teman seperjuangan dari guild yang sama, aku berpikir saat ini adalah kesempatan yang baik untuk memperbaiki perseteruan diantara kalian berdua.”
Sementara aku menatap Godfree yang tertawa terbahak-bahak, Kuradeel berjalan secara perlahan kearahku.
“…”
Aku menjadi curiga dan bersiap untuk bereaksi terhadap situasi apapun. Walaupun kami berada dalam safe area, tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan.
Tetapi berlawanan dengan semua perkiraanku, Kuradeel tiba-tiba menundukkan kepalanya. Dia kemudian menggumamkan sesuatu secara lirih dibalik rambut panjangnya.
“Maaf... atas apa yang telah kuperbuat kepadamu...”
Kali ini aku benar-benar terkejut. Mulutku ternganga karena heran dan aku tidak dapat berkata apa-apa.
“Aku tidak akan berlaku kasar lagi... Aku berharap kau dapat memaafkanku...”
Aku tidak dapat melihat raut wajahnya dibalik rambut panjang & berminyaknya.
“Ah... tidak apa-apa...”
Saat aku memaksakan diriku untuk mengangguk, aku bertanya-tanya mengenai apa yang telah terjadi. Apakah dia telah melakukan operasi penggantian kepribadian atau sesuatu yang lain?
“Ya, ya. Sekarang masalah sudah terselesaikan!!”
Godfree kembali tertawa terbahak-bahak. Aku merasa sangat curiga; Kuradeel pasti telah merencanakan sesuatu, tetapi aku tidak dapat menebaknya dengan melihat kepalanya yang tertunduk. Berkebalikan dengan emosi yang dilebih-lebihkan, SAO masih kesulitan untuk menampilkan ekspresi wajah yang semu. Aku hanya dapat menerima permintaan maafnya sekarang, tetapi aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lengah.
Anggota terakhir akhirnya tiba setelah beberapa waktu, dan kami mulai berangkat menuju labirin. Saat aku hendak melangkah, Godfree menghentikanku dengan nada kasar:
“Tunggu... latihan hari ini akan dilakukan dalam keadaan yang paling realistis. Aku ingin melihat sebagaimana bagus kalian menghadapi keadaan genting, jadi aku akan mengambil semua kristal kalian...”
“...bahkan teleport crystal kami?”
Godfree hanya mengangguk. Aku ragu-ragu mengenai hal ini. Kristal, terutama teleport crystal, adalah jaring pengaman terakhir pada death game ini. Aku tidak pernah bertualang tanpa kristal-kristal ini. Aku hendak menolak, tetapi masalah ini mungkin saja membuat Asuna berada dalam situasi yang bermasalah, jadi aku memutuskan untuk menahan ucapanku.
Melihat Kuradeel dan yang lainnya menyerahkan kristal mereka dengan patuh, aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti. Godfree bahkan memeriksa inventory-ku secara seksama setelah itu.
“Hmm, baguslah. Sekarang mari kita berangkat”
Dibawah perintah Godfree, kami berjalan keluar dari Grandum dan berjalan menuju area labirin yang dapat kami lihat di arah barat dari kejauhan.

Area latihan pada lantai lima puluh lima adalah daerah tandus nyaris tanpa tumbuhan. Aku hendak menyelesaikan latihan secepat mungkin, sehingga aku menyarankan untuk berlari sepanjang jalan ke arah labirin, tetapi saranku ditolak mentah-mentah dengan sebuah lambaian tangan dari Godfree.Hal ini mungkin karena dia memfokuskan untuk menaikkan strength stat-nya dan mengabaikan dexterity.Aku hanya dapat menyerah dan meneruskan perjalanan melalui gurun tanpa akhir ini.
Kami beberapa kali bertemu dengan monster-monster. Tetapi mengenai hal ini, aku tidak mempunyai cukup kesabaran untuk menunggu perintah Godfree, jadi aku dengan mudahnya menebas mereka saat itu juga.
Pada akhirnya, setelah melewati beberapa gunung yang tinggi dan berbatu, batu-batu kapur berwarna abu-abu dari labirin akhirnya terlihat...
“Baiklah, kita sekarang beristirahat disini!”
Setelah Godfree mengumumkan hal ini dengan nada kasar, kelompok ini berhenti.
“...”
Aku ingin langsung menerobos masuk kedalam labirin; tetapi karena aku mengetahui bahwa hal ini akan ditolak walaupun aku mengusulkannya, aku hanya menghela napas dan duduk pada sebuah batu. Saat ini sudah mendekati tengah hari.
“Aku akan membagikan makanannya..”
Godfree kemudian mengambil empat kantung kulit dan melemparkannya kepada masing masing anggota. Aku menangkap milikku dengan satu tangan dan membukanya tanpa mengharapkan apa-apa. Didalam kantong itu terdapat sebotol air dan roti keras yang dijual di toko milik NPC.
Aku membuka botolnya dan meminum seteguk penuh sementara mengutuk keberuntunganku; aku bisa saja memakan sandwich buatan Asuna saat ini bila semuanya telah berjalan lancar.
Lalu, aku tiba-tiba menyadari bahwa Kuradeel duduk di batu yang jauh. Dia bahkan tidak membuka kantungnya, dan kedua mata dibalik rambut panjangnya menatap dengan niat buruk kearah kami.
Apakah yang mungkin sedang dia tatap...?
Hawa dingin tiba-tiba menyerang sekujur tubuhku. Da sedang menunggu sesuatu terjadi. Sesuatu itu... kemungkinan besar-
Aku langsung membuang botol yang kubawa dan mencoba untuk memuntahkan cairan itu dari mulutku.
Tetapi sudah terlambat. Tenagaku tiba-tiba menghilang dan aku terjatuh. Terlihat HP bar di ujung penglihatanku; HP bar ini dikelilingi oleh garis hijau yang biasanya tidak ada disana.
Tidak mungkin aku salah; apa yang baru aku minum adalah racun untuk melumpuhkan.
Saat aku melihat sekeliling, aku mengetahui bahwa Godfree dan yang lainnya juga telah menggeliat ditanah. Aku langsung mencari kedalam kantung menggunakan tangan kiriku, tetapi hal ini hanya memperkuat rasa panik-ku. Aku telah menyerahkan semua antidote crystal-ku kepada Godfree. Aku masih memiliki sebuah potion,tetapi potion ini tidak berpengaruh terhadap kelumpuhan.
“Ku...kukuku...”
Tawa yang melengking mencapai telingaku. Sementara dia duduk di batu, Kuradeel memegang perutnya dengan kedua tangan dan tertawa terbahak-bahak. Kelopak matanya yang tebal menunjukkan ekstasi kegilaan yang aku ingat dengan sangat baik.
“Waha! Haha! Hyahahahaha!!”
Dia tertawa terbahak-bahak sambil menengadah ke langit, kelihatannya tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Godfree menatapnya dengan ekspresi wajah kebingungan.
“Apa... apa yang terjadi...? Bukankah airnya... disiapkan... olehmu, Kuradeel...”
“Godfree! Cepat, gunakan antidote crystal!!”
Setelah mendengarkan teriakanku, Godfree akhirnya mulai mencari didalam kantung di sisi tubuhnya.
“Hya-!!”
Dengan teriakan yang aneh, Kuradeel melompat dari batu tempat duduknya dan menendang tangan kiri Godfree dengan sepatunya. Sebuah kristal hijau bergulir dari tangan Godfree. Kuradeel mengambilnya, dan memasukkan tangannya kedalam kantung Godfree, mengambil kristal yang tersisa dalam kantong, dan memasukkannya kedalam kantungnya sendiri.
Semuanya telah berakhir.
“Kuradeel… apa, apa yang kau lakukan? Apakah ini adalah semacam... latihan?”
“Bo-doh!!”
Kuradeel mengatakan hal ini sembari dia menendang Godfree, yang masih belum dapat mengerti apa yang sedang terjadi dan menggumamkan hal bodoh ini, pada mulutnya.
“Argh!”
HP Godfree menurun sedikit, dan pada saat yang bersamaan cursor Kuradeel berubah dari kuning menjadi warna oranye yang menunjukkan status kriminal. Tetapi hal ini tidak mengubah apapun. Tidak mungkin seseorang akan melewati lantai yang telah diselesaikan.
“Godfree-san, aku selalu menganggap kamu sebagai seorang idiot, tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa kamu akan separah ini. Apakah otakmu juga terbuat dari otot?
Tawa tajam Kuradeel membahana keseluruh gurun.
“Masih banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu... tetapi aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan makanan pembuka...”
Kuradeel menghunuskan two-handed sword miliknya sembari berkata. Dia mengangkatnya tinggi ke udara dan meregangkan tubuh kurusnya. Cahaya mentari terpantul dari bilah pedangnya yang tebal saat dia mengayun-ayunkan pedang itu.
“T-tunggu, Kuradeel! Kau... apa... apa yang kau katakan ... bukankah... bukankah ini adalah latihan?”
“Tutup mulutmu dan matilah.”
Kuradeel meludah dan mengayunkan pedangnya tanpa ampun. Terdengar suara yang keras dan menjengkelkan , dan HP Godfree menurun secara drastis.
Godfree akhirnya menyadari seberapa serius keadaannya dan mulai berteriak. Tetapi sekarang sudah terlambat.
Dua, tiga kali pedangnya terayun kebawah tanpa ampun dengan berkilatan cahaya, dan HP Godfree berkurang banyak dalam setiap ayunan pedang itu. Kemudian, saat HP Godfree mencapai area merah, Kuradeel berhenti.
Saat aku baru saja berpikir bahwa dia tidak akan membunuh tidak peduli seberapa gilanya dia, Kuradeel membalik pegangan pedangnya dan secara perlahan menusukkannya ke tubuh Godfree. Saat HP Godfree berkurang sedikit demi sedikit, Kuradeel mulai mendorong pedang itu dengan seluruh tubuhnya.
“Aaaaaaaahhh!!”
“Hyahahahaha!!”
Sementrara teriakan Godfree menjadi semakin keras, Kuradeel mulai berteriak juga. Pedang itu mulai tertanam dalam tubuh Godfree secara perlahan-lahan dan HP-nya berkurang secara stabil-
Sementara anggota lain dan diriku melihat dalam diam, pedang Kuradeel menembus tubuh Godfree sepenuhnya, dan HP bar-nya menjadi nol pada saat yang bersamaan. Godfree kemungkinan besar tetap tidak mengerti apa yang terjadi walaupun pada saat itu tubuhnya terpecah menjadi pecahan yang tak terhitung.
Kuradeel secara perlahan menarik pedangnya dari tanah, lalu memalingkan mukanya seperti boneka mekanis [1] dan melihat anggota lainnya.
“Ah!! Ahhh!!”
Dengan teriakan-teriakan pendek ini, anggota tersebut mengayun-ayunkan lengannya dalam usahanya untuk melarikan diri. Kuradeel mulai berjalan kearahnya dengan langkah yang aneh.
“…Aku tidak ada dendam terhadapmu... tetapi menurut rencanaku, hanya aku saja yang kembali dengan selamat…”
Dia kemudian mengangkat pedangnya sembari bergumam kepada dirinya sendiri.
“Aaaahh!”
“Kau ingin dengar~? Sebenarnya, kelompok kami--”
Dia mengayunkan pedangnya; telinganya tidak mendengar teriakan-teriakan anggota lainnya itu.
“Telah disergap di gurun oleh sekelompok besar dari PKers-.”
Dia mengayunkan pedangnya lagi.
“Kami bertarung dengan sengit, tetapi tiga anggota yang lain telah meninggal-.”
Dan pedangnya terayun lagi.
“Aku hanyalah satu-satunya yang tersisa, tetapi aku berhasil mengusir para kriminal itu dan berhasil bertahan hidup sebelum kembali ke HQ-.”
Setelah serangan ke-empat, HP dari anggota itu habis. Sebuah suara yang membuat tubuhku menggigil berbunyi. Tetapi Kuradeel bersikap seakan dia telah mendengarkan suara dari seorang dewi. Dia berdiri disana, di tengah ledakan serpihan-serpihan, dan mendengarkannya dengan ekspresi bahagia tergambar di wajahnya.
Kali ini bukan hari pertamanya...
Aku sangat yakin akan hal ini. Cursor miliknya mungkin telah berubah menjadi warna oranye dari kriminal baru beberapa waktu yang lalu, tetapi masih ada banyak cara tercela untuk membunuh orang tanpa merubah warna cursor-nya. Akan tetapi, mengerti mengenai hal ini sekarang tidak akan memecahkan masalah apapun.
Akhirnya, Kuradeel berbalik untuk melihatku, dengan kegembiraan yang tak tertahankan tergambar jelas di wajahnya. Dia berjalan perlahan kearahku, pedangnya membuat suara yang memuakkan saat dia menggoreskannya di tanah sepanjang perjalanannya.
“Hey.”
Dia merundukkan badan di sebelahku, yang masih tergeletak di tanah, dan berbisik kepadaku.
“Karena idiot sepertimu, aku harus membunuh dua orang yang benar-benar tidak bersalah.”
“Walaupun begitu kau terlihat sangat senang akan hal itu.”
Aku merespon sementara aku dengan putus asa berusaha mencari jalan keluar dari situasi ini. Dari tubuhku, yang dapat bergerak hanyalah bibir dan tangan kiriku. Karena kelumpuhan mencegah seseorang untuk membuka menu window, berarti hal ini juga melarang player untuk mengirim pesan jenis apapun. Walaupun aku tahu bahwa hal ini tidak akan banyak membantu, aku berusaha untuk menggerakkan tangan kiriku, yang berada pada blind-spot dari Kuradeel, sementara aku terus berbicara.
“Mengapa seseorang sepertimu bergabung dengan KOB? Sebuah criminal guild akan lebih cocok untukmu.”
“Keh, mengapa kamu bertanya mengenai sesuatu yang sudah pasti? Aku bergabung karena gadis itu.”
Dia mengatakannya dengan suaranya yang parau dan menjilat bibirnya. Saat aku menyadari bahwa dia sedang berbicara tentang Asuna darahku mulai mendidih.
“Kau bajingan tengik ...!”
“Woah, mengapa kamu menatapku seperti itu? Bukankah semuanya ini hanyalah sebuah permainan...? Jangan khawatir, aku akan menjaga wakil ketua-mu yang berharga itu. Lagipula,aku mempunyai banyak item yang berguna.”
Kuradeel mengambil botol air minum yang telah diracuninya dan mengguncangkannya untuk membuat suara percikan. Kemudian dia memberikan kedipan mata yang aneh dan meneruskan pembicaraanya.
“Dan kamu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menarik, bahwa aku lebih cocok menjadi anggota criminal guild.”
“…yah, itu adalah sebuah kebenaran.”
“Aku sedang memujimu. Kamu sangat jeli.”
Kekekeke.
Kuradeel sepertinya sedang memikirkan sesuatu saat dia tertawa. Kemudian dia tiba-tiba melepaskan sarung tangan kirinya.Dia menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan lengan bawahnya sehingga aku dapat melihat apa yang ada dibaliknya.
“...!!”
Saat aku melihat apa yang ada disana—nafasku tiba-tiba terhenti. Apa yang ada disana adalah sebuah tato. Tato itu berwujud karikatur seperti manga tentang sebuah peti mati hitam kelam. Sebuah mulut dan sepasang mata membentuk seringai lebar pada permukaan tutup peti; tulang-belulang dari sebuah tangan tengkorak menggapai keluar dari dalam peti.
“Itu... adalah lambang dari... «Laughing Coffin»?”
Aku menanyakan hal itu dengan suara serak. Kuradeel tersenyum dan mengangguk setuju.
«Laughing Coffin» sebelumnya adalah grup PK terbesar dan terburuk di Aincrad. Mereka dipimpin oleh seseorang yang kejam dan licik, dan terus bereksperimen tanpa akhir dengan metode-metode baru untuk membunuh orang; pada akhirnya, jumlah pemain yang telah dibunuhnya berjumlah hingga tiga digit satuan.
Para pemain pertama mencoba memecahkan masalah ini dengan negosiasi, tetapi setiap pembawa pesan yang dikirim segera dibunuh. Kami bahkan tidak dapat mengerti kenapa mereka melakukan PK, karena hal ini hanya menurunkan kemungkinan unuk menyelesaikan permainan ini, dan karena hal ini kami tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan mereka. Beberapa waktu yang lalu, para pemain yang bertujuan untuk menyelesaikan permainan ini telah membentuk grup penaklukan yang menyaingi grup-grup pembunuh boss, dan pada akhirnya menghancurkan guild mereka setelah beberapa pertarungan yang panjang dan berdarah.
Asuna dan aku juga pernah menjadi bagian dari grup tersebut. Tetapi informasi mengenai grup ini telah bocor entah dimana, dan para Pker telah bersiap-siap dan menantikan kami. Dalam usaha kerasku untuk melindungi teman seperjuanganku, pada akhirnya aku mengambil nyawa dari dua anggota Laughing Coffin secara tidak sengaja.
“Apakah ini...untuk balas dendam? Kamu adalah orang yang selamat dari Laughing Coffin?”
Aku menanyakan hal ini dengan suara parau. Kuradeel secara virtual meludahkan jawabannya:
“Heh, tidak mungkin. Mengapa aku akan melakukan hal sebodoh itu? Aku baru-baru saja bergabung dengan Laughing Coffin, dan hanya dalam semangat. Aku belajar teknik meumpuhkan ini dari mereka... ah, cerita yang membosankan.”
Dia berdiri dengan gerakan yang hampir mirip dengan mesin dan mengangkat pedangnya lagi.
“Baikah, kita sudah cukup lama berbicara. Efek racunnya akan segera habis sebentar lagi, jadi aku perlu menyelesaikannya sekarang. Aku telah memimpikan saat ini... semejak duel saat itu...”
Api berkobar di kedua matanya, yang terbuka lebar sekali hingga bernentuk lingkaran. Dia tersenyum sambil menjulurkan lidahnya, dan dia bahkan berjinjit saat dia bersiap untuk mengayunkan pedangnya.
Sesaat sebelum dia bergerak,aku melemparkan mata pisau di tangan kiriku hanya menggunakan pergelangan tanganku. Walaupun sebenarnya aku mengarahkannya ke arah wajah dimana cederanya akan lebih parah, accuracy penalty dari kelumpuhan meyebabkan mata pisau baja itu meleset dan menusuk lengan kiri Kuradeel. HP Kuradeel hanya berkurang sedikit, sementara aku jatuh kedalam situasi yang tanpa harapan.
“...sakit juga ...”
Kuradeel mengerutkan alisnya dan melebarkan senyumnya, kemudian menusuk lengan kananku dengan ujung pedangnya. Dia kemudian memelintirkannya dua kali, lalu tiga kali.
“Argh...!”
Walaupun aku tidak merasakan sakit sedikitpun, perasaan yang tidak mengenakkan dari stimulasi di syaraf menyebar keseluruh tubuhku bersamaan dengan efek kuat dari kelumpuhan. Setiap kali pedang itu menusuk lenganku, HP-ku berkurang secara lambat tapi pasti.
Apakah masih disana...? Apakah efek dari racunnya masih belum hilang...?
Aku menggertakan gigiku dan menunggu saat dimana tubuhku akan terbebas. Jangka waktu dari kelumpuhan berbeda-beda berdasarkan dari kekuatan racun lainnya. Tetapi kebanyakan racun penyebab kelumpuhan kehilangan efektivitasnya dalam waktu kurang lebih lima menit atau sekitar itu.
Kuradeel menarik pedangnya lalu menusuk kaki kiriku. Perasaan tidak mengenakkan kembali menyebar ke seluruh tubuhku, dan sistem dari permainan ini mengkalkulasikan tingkat cederanya tanpa ampun.
“Jadi...? Bagaimana rasanya...? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa kau akan mati sebentar lagi...? Maukah kau... beritahu aku...?”
Kuradeel mengatakan hal ini dengan hampir berbisik saat dia menatap wajahku dengan penuh perhatian.
“Katakan sesuatu cumi-cumi... Menangis dan berteriaklah kalau kamu tidak ingin mati...”
HP-ku menurun hingga dibawah garis tengah dan berubah menjadi warna kuning. Kelumpuhannya masih belum hilang juga. Sekujur tubuhku menjadi semakin dingin, seakan-akan kematian sedang menyelubungiku dengan udara beku, rasa dinginnya secara perlahan merangkak dari kedua kakiku.
Aku telah melihat banyak pemain yang meninggal di dalam SAO. Mereka semua memiliki ekspresi wajah yang sama saat mereka terpecah menjadi pecahan yang tak terhitung jumlahnya dan menghilang; ekspresi itu selalu merupakan ekspresi sederhana dari sebuah perenungan, sebuah ekspresi yang menanyakan, ”apakah aku benar-benar akan mati seperti ini?”
Ekspresi itu kemungkinan besar disebabkan karena, jauh didalam hati kita, tidak seorangpun dari kita ingin menerima peraturan mutlak dari permainan ini. Kita sebenarnya tidak ingin mempercayai bahwa kematian didalam permainan ini berarti kematian yang sesungguhnya.
Kita semua menaruh harap pada sebuah spekulasi, bahwa “mungkin kita hanya akan kembali ke dunia nyata saat HP kita menjadi nol dan kita menghilang.” Tentu saja, kau perlu mati sendiri untuk mengetahui apakah yang sebenarnya akan terjadi. Bila kau berpikir mengenai hal ini seperti itu, lalu kematian akan menjadi salah satu cara untuk melarikan diri dari permainan ini-.
“Hey, hey, katakan sesuatu. Aku benar-benar berusaha membunuhmu sekarang.”
Kuradeel menarik pedangnya dari kakiku dan kali ini menusuk perutku. HP-ku menurun secara drastis dan menuju ke area berbahaya warna merah.Tetapi aku merasa hal ini bukanlah hal yang menjadi perhatianku, seakan-akan ini semua terjadi di dunia lain yang jauh. Walaupun aku sedang disiksa dengan pedang ini, pikiranku sedang berjalan kearah jalan yang kelam, seakan-akan kain yang berat dan tebal perlahan-lahan menutupinya.
Lalu kemudian—rasa takut yang kuat tiba-tiba mencengkeram hatiku.
Asuna. Bila aku meghilang dan meninggalkannya sendiri di dunia ini, Asuna akan jatuh ke tangan Kuradeel dan harus merasakan rasa sakit yang sama denganku. Kemungkinan itu membuat rasa sakit yang tak tertahankan yang mengejutkanku dan membuatku kembali sadar.
“Kaaaah!!”
Aku membuka mataku, mencengkeram pedang yang tertanam kedalam perutku, dan mulai menariknya keluar dengan kekuatan yang masih ada padaku. Aku hanya memiliki sekitar sepuluh persen HP tersisa. Kuradeel lalu berteriak kaget:
“Huh... huh? Apa ini, kamu takut mati?”
“Ya... Aku... tidak boleh mati dulu…”
“Heh!! Hyahaha!! Begini lebih baik!!”
Kuradeel tertawa seperti burung yang aneh dan menekan pedangnya dengan seluruh berat tubuhnya. Aku menahannya dengan satu tangan. Sistemnya melakukan perhitungan-perhitungan yang rumit berdasarkan atas kekuatanku dan Kuradeel dan menetapkan hasilnya.
Hasil akhirnya—pedangnya kembali menusukku lagi, perlahan tetapi pasti. Aku dipenuhi dengan rasa takut dan putus asa.
Apakah ini akhirnya?
Apakah aku akan mati? Meninggalkan Asuna didalam dunia yang gila ini?
Aku berusaha melawan pedang yang perlahan-lahan mendekat dan rasa putus asa yang menggapai dari dalam diriku.
“Mati-!! Maaatiiii-!!”
Kuradeel berteriak dengan suara yang melengking.
Niat membunuh yang berbentuk pedang yang bersinar kusam mendekat sentimeter demi sentimeter. Lalu akhirnya, ujung dari pedang itu mencapai tubuhku—dan perlahan menusuk masuk...
Pada saat yang sama, sehembus angin bertiup.
Ini adalah hembusan angin merah tua dan putih murni.
“Huh...!?”
Dengan seruan terkejut ini, pembunuh itu beserta pedangnya terlempar tinggi ke udara. Aku terdiam menatap bayang-bayang dari orang yang telah datang.
“...Aku belum terlambat... Aku belum terlambat... terima kasih, Tuhan... Aku belum terlambat...”
Suaranya yang bergetar terdengar lebih indah daripada kepakan sayap seorang malaikat. Bibirnya bergetar hebat sembari dia jatuh berlutut dan melihatku.
“Masih hidup... kamu masih hidup, benarkan, Kirito-kun…?”
“...yah... Aku masih hidup...”
Suaraku terdengar begitu lemah sehingga hal itu mengejutkanku. Asuna mengangguk sekali dan mengeluarkan kristal berwarna merah muda dari kantungnya, lalu meletakkan tangan kirinya pada dadaku dan berteriak.
“Heal!”
Kristal itu pecah dan HP bar-ku terisi saat itu juga. Setelah memastikan kesembuhanku, Asuna berbisik kepadaku
“...Tunggu disini. Aku akan segera membereskan hal ini...”
Asuna lalu berdiri, menghunuskan rapiernya dengan anggun, dan mulai berjalan.
Sasarannya, Kuradeel masih berusaha untuk mengangkat tubuhnya dari tanah. Saat dia melihat orang yang berjalan kearahnya, kedua matanya terbelalak.
“A-Asuna-sama... b-bagaimana anda sampai disini...? H-hal, ini, adalah latihan, ya, tadi ada kecelakaan ditengah latihan...”
Kuradeel melompat keatas seakan-akan dia memiliki pegas ditubuhnya dan berusaha untuk mengutarakan alasan dengan suaranya yang gugup. Tetapi sebelum dia selesai, tangan kanan Asuna bercahaya dan ujung pedangnya merobek mulut Kuradeel. Dia tidak menjadi kriminal karena musuhnya telah memiliki cursor oranye.
“Ahh!!”
Kuradeel menutupi mulutnya dengan tangannya, menyondorkan badan kebelakang, dan terhenti sesaat.Kemudian, sembari dia kembali berdiri tegak, kedua matanya penuh dengan amarah yang kukenal.
“Kau perempuan jalang... kau berbuat terlalu jauh... Heh, tidak apa-apa. Aku hanya perlu mengurusmu juga...”
Tetapi dia berhenti ditengah kata-katanya; Asuna telah mulai menyerang dengan ganas segera setelah dia mempererat genggaman pada pedangnya. Rapier miliknya menggambar lintasan-lintasan cahaya yang tak terhitung banyaknya saat rapier miliknya menyayat dan menusuk Kuradeel dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan aku tidak dapat melihat jalur pedangnya, dan aku berada beberapa level diatasnya. Aku hanya menyaksikan bidadari ini mengayunkan pedangnya hampir seakan-akan dia sedang menari.
Tarian itu sangat indah. Asuna memukul mundur musuhnya dengan tanpa ekspresi, rambut cokelat kemerah-merahannya mengalir sementara percikan-percikan kemarahan menyelimuti sekujur tubuhnya; keindahannya tak terlukiskan.
“Ah!! Kaaaa!!”
Kuradeel sudah mulai panik, pedangnya terayun liar tanpa sekalipun menggores Asuna. Sementara HP-nya menurun dari daerah kuning ke daerah merah, Kuradeel akhirnya membuang pedangnya kesamping dan berteriak dengan kedua tangannya terangkat diudara.
“B-baiklah!! Baiklah!! Aku minta maaf!!”
Dia lalu berlutut dan memohon.
“A-aku akan meninggalkan guild! Aku tidak akan muncul dihadapan kalian berdua lagi!! Jadi-“
Asuna mendengarkan permohonannya dalam diam.
Dia lalu mengangkat pedangya perlahan dan membalik pegangan pedangnya. Tangannya yang mungil menegang karena gugup, dan kemudian terangkat beberapa sentimeter saat dia bersiap untuk menusuk Kuradeel. Pada saat itu pembunuh itu berteriak lebih keras.
“Heeeek! A-aku tidak mau mati-!!”
Pedangnya terhenti tiba-tiba seperti menghantam dinding yang tidak terlihat. Tubuh mungilnya mulai gemetar dengan hebat.
Aku dapat sepenuhnya memahami konflik didalam diri Asuna, mengenai rasa takut dan amarahnya.
Dari apa yang aku tahu, dia belum pernah membunuh siapapun didalam permainan ini. Karena bila seorang pemain terbunuh didunia ini maka dia juga akan mati didunia nyata, PK didalam network game ini sama dengan pembunuhan yang sebenarnya.
—Ya. Berhenti, Asuna. Jangan melakukannya.
Ketika aku meneriakkan hal ini kepada diriku sendiri, aku juga memikirkan hal yng sebaliknya pada saat yang sama.
—Tidak, jangan ragu-ragu. Ini adalah kesempatan yang dia tunggu.
Perkiraanku menjadi kenyataan 0.1 detik kemudian.
“Ahahahaha!”
Aku tidak yakin kapan Kuradeel mengambil pedangnya lagi, tetapi dia tiba-tiba mengayunkannya keatas dengan sebuah teriakan.
Rapier milik Asuna berdentang dan terlempar dari genggaman tangan kanannya.
“Ah...!?”
Saat Asuna berseru dan kehilangan keseimbangannya,sebuah sinar metalik berkilat diatas kepalanya.
“Wakil-ketua, kamu masih terlaaaaaaaaaaaaluu naif.”
Dengan sebuah jeritan yang dipenuhi kegilaan, Kuradeel mengayunkan pedangnya tanpa ragu-ragu, menggambarkan sebuah garis cahaya merah kelam.
“Ahhhhhhh!!”
Kali ini,akulah yang berteriak. Aku melompat dari tanah dengan kaki kananku, yang telah pulih dari kelumpuhan, dan terbang sejauh beberapa meter sebelum mendorong Asuna kesamping dengan tangan kananku sementara aku menangkis pedang Kuradeel dengan tangan kiriku.
Buk.
Dengan suara yang tidak mengenakkan ini, tangan kiriku terpotong mulai dari siku kebawah. Icon kehilangan anggota tubuh menyala dibawah HP bar-ku. Sementara garis-garis merah darah mengalir keluar dari luka potong ditangan kiriku, tangan kananku meluruskan jari-jarinya dan-.
Aku menusukkan tanganku kedalam celah diantara baju zirah Kuradeel yang tebal. Tanganku berpendar kuning saat tanganku tertanam dalam kedalam perut Kuradeel.
Aku telah dengan sukses membalas dengan teknik jarak sangat dekat «Embracer», yang segera menghabiskan sisa dua puluh persen HP Kuradeel. Tubuhnya yang kurus kering dan cekung bergetar dengan hebat disampingku, lalu kehilangan semua kekuatannya dan jatuh terkulai.
Saat great sword miliknya jatuh ke tanah dan berdentang, dia berbisik kedalam telingaku:
“Kau... pembunuh...”
Dia mengejek dengan suara "kuku"
Seluruh tubuh Kuradeel terpecah menjadi banyak pecahan kaca. Aku terdorong oleh tekanan dingin dari poligon-poligon yang menghilang dan terjatuh kebelakang.
Untuk sementara waktu, pikiranku yang kelelahan ,dan terbekukan hanya mengetahui suara dari angin yang berhembus.
Lalu aku mendengar langkah tak beraturan yang berjalan di jalan setapak. Saat aku mengalihkan pandanganku, aku dapat melihat tubuh yang terlihat rapuh berjalan kearahku dengan ekspresi hampa.
Asuna berjalan dengan gemetar kearahku dengan kepala tertunduk, dan jatuh berlutut didepanku seperti boneka yang telah terputus benangnya. Walaupun dia menjangkauku dengan tangan kananya, dia tiba-tiba menarik tangannya kembali sebelum tangannya dapat menyentuhku.
“...Maafkan aku, karena aku... semuanya ini karena aku...”
Asuna mengucapkan hal ini dengan suara gemetar dan ekspresi duka yang mendalam. Air mata mengalir dari kedua mata yang besar dan menetes ke tanah seperti batu permata yang berkilauan. Aku hampir tidak bisa mengucapkan suatu kata pendek dari kerongkonganku yang kering:
“Asuna...”
“Maafkan aku... aku... tidak akan... bertemu Kirito-kun... l... lagi.”
Aku memaksakan diriku untuk menegakkan tubuhku kembali, yang akhirnya merasa telah pulih. Tubuhku masih dipenuhi dengan rasa tidak nyaman karena cidera parah yang aku dapatkan, tetapi aku memeluk Asuna dengan tangan kananku dan tangan kiriku yang lumpuh. Lalu,aku menutupi bibir indahnya, yang berwarna ceri dengan bibirku.
“...!”
Badan Asuna menjadi kaku, dan mencoba mendorongku pergi, tetapi aku menahan tubuh mungilnya dengan rapat dengan semua kekuatan yang kupunya. Hal ini tanpa diragukan adalah sesuatu yang berlawanan dengan kode pencegahan pelanggaran sikap.. Pada saat ini, pesan sistem seharusnya sudah tampil didepan Asuna, dan bila dia menyentuh OK, aku akan segara di-teleportasi ke area penjara dari Black Iron Castle.
Tetapi aku tetap tidak melonggarkan pelukanku. Saat bibirku meninggalkan bibir Asuna, bibirku menyentuh pipinya sebelum aku memendamkan wajahku pada lekukan lehernya. Lalu aku berbisik:
“Hidupku hanya untukmu, Asuna. Jadi aku akan menggunakannya untukmu. Aku akan selalu bersamamu hingga akhir.”
Aku menarik Asuna lebih dekat dengan lengan kiriku yang masih memiliki ikon kehilangan anggota tubuh yang dikenakan selama tiga menit. Asuna menarik nafas dengan gemetar dan kemudian berbisik membalasku:
“...A-aku akan melindungimu juga. Aku akan melindungimu selamanya. Jadi...”
Dia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Jadi aku mendengar isakan tangisnya dengan tangan kami saling berangkulan satu sama lain.
Kehangatan dari tubuh kami mulai melelehkan hatiku yang beku sedikit demi sedikit.

Baca Online Light Novel Sword Art Online Jilid 1 : Aincrad Bab 14

                                Bab 14


Wha... apa itu!?”
"Apa yang kamu maksud? Kamu tahu apa ini. Sekarang, ayo bangun!"
Benda yang telah Asuna paksakan kepadaku adalah pakaian baruku. Walaupun pakaian itu memiliki desain yang sama dengan mantel yang biasa aku pakai,tetapi warnanya putih menyilaukan. Terdapat sebuah salib kecil di setiap mansetku dan satu salib besar di bagian punggungku; ketiganya di warnai merah cerah. Pakaian ini, tanpa keraguan sedikitpun, adalah sebuah seragam KOB.
"...A-aku bilang aku ingin sesuatu yang polos...”
"Seragam ini sudah cukup polos. Yeah, kamu cocok memakai pakaian ini!!”
Aku terperosot kembali ke kursi goyang ketika semua kekuatan hilang dari tubuhku. Aku masih tinggal di lantai kedua dari toko milik Agil. Tempat ini telah menjadi tempat perlindungan dari bencanaku, jadi pemilik toko yang patut dikasihani itu hanya dapat tidur di tempat tidur sederhana pada lantai pertama. Satu-satunya alasan dia belum mengusirku adalah karena Asuna datang setiap hari untuk membantu di toko. Hal itu adalah kesempatan periklanan terbaik yang dapat dia dapatkan.
Sementara aku mengeluh di kursiku, Asuna datang dan duduk di sandaran tangan, yang telah menjadi tempat pilihannya. Dia menggoyangkan kursinya sembari tersenyum, seakan-akan keadaan sulitku sekarang terasa menyenangkan baginya, dan kemudian menepukkan kedua tangannya seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.
"Ah, kita lebih baik mengucapkan salam perkenalan kita dengan baik. Sebagai anggota dari guild, aku harap kita dapat akur.”
Karena dia tiba-tiba membungkuk, aku menegakkan punggungku untuk menjawab.
"A-aku juga berharap kita dapat akur.... lalu kemudian juga, aku hanyalah seorang anggota biasa sedangkan kamu adalah wakil-ketua, jadi...”
Kekalahanku dalam duel melawan Heathcliff telah terjadi dua hari yang lalu. Karena aku bukanlah orang yang akan mengingkari janjinya, aku bergabung dengan Knights of the Blood seperti yang telah aku setujui dengan Heathcliff, guild memberiku waktu dua hari untuk bersiap-siap, jadi mulai besok aku akan mengikuti perintah mereka untuk menjelajahi labirin dari lantai tujuh-puluh-lima.
Bergabung dengan sebuah guild, huh-.
Asuna melirikku karena dia mendengar helaan napas pelanku.
"... kamu terlibat dalam semua ini karena aku.”
"Nah, tidak apa-apa. Hal ini adalah kesempatan baik untukku. Aku juga mulai merasakan batasan-batasan dalam bermain solo...”
"Aku sangat lega mendengarmu mengatakan hal itu... Hey, Kirito-kun...”
Kedua mata Asuna yang seperti kemiri menatap langsung kepadaku.
"Dapatkah kamu memberitahukanku mengapa kamu menghindari guild-guild... menghindariorang-orang...? Aku rasa ini bukanlah karena kamu adalah seorang beta tester ataupun unique skill user, karena kamu adalah orang yang sangat baik.”
Aku memindahkan pandanganku ke bawah dan secara perlahan menggoyangkan kursiku.
"...dahulu... lebih dari satu tahun yang lalu sebenarnya, aku pernah bergabung dengan sebuah guild...”
Kata-kataku keluar dengan begitu mudahnya sehingga hal itu mengejutkanku. Mungkin ini karena aku merasa pandangan mata Asuna akan dapat mencairkan kepedihan yang menusukku setiap kali aku memikirkan mengenai hal ini.
"Aku pernah ditawarkan sebuah posisi dalam guild setelah aku bertemu dan membantu mereka secara kebetulan di dalam sebuah area labirin... Guild ini berukuran kecil dengan hanya enam anggota, termasuk aku, dan guild ini memiliki nama yang menarik: «Black Cats of the Full Moon»."
Asuna tersenyum ringan.
"Pemimpin guildnya adalah orang yang baik. Dia adalah seorang pengguna two-handed staff bernama Keita. Dia selalu mengutamakan anggota guild dahulu di dalam situasi apapun, sehingga semua sangat mempercayainya. Dia memberitahukanku bahwa dia sedang mencari seseorang untuk menjadi forward, karena kebanyakan anggota guildnya menggunakan senjata dua tangan dengan jarak jangkau yang lebih jauh ...”
Sejujurnya, level mereka semuanya jauh berada di bawah levelku. Tidak, aku seharusnya mengatakan bahwa akulah yang menaikkan level terlalu banyak.
Bila aku telah memberitahukan dia levelku, Keita pasti akan berpikir sebaliknya untuk mengundangku. Tetapi aku telah lelah pergi ke labirin sendirian hari demi hari, dan suasana seperti keluarga dari para «Black Cats» telah membuatku iri. Hal ini terasa seperti mereka adalah teman dalam dunia nyata, karena percakapan mereka antar satu dengan yang lain tidak memiliki kecanggungan ataupun jarak yang biasanya tampak dalam percakapan online antara para pemain; hal itu jugalah yang telah membuatku terpikat dalam.
Secara terus terang, aku tidak mempunyai hak apapun mengenai keinginan untuk mendapatkan kepedulian dari orang lain. Aku telah kehilangan hak itu ketika aku memutuskan untuk menjadi solo player dan secara egois menaikkan level hanya untuk kepentinganku sendiri. Tetapi aku telah meredam suara hatiku dan bergabung dengan guildnya, menyembunyikan baik levelku dan masa laluku sebagai beta-tester.
Keita bertanya kepadaku bila aku dapat melatih salah satu dari pengguna tombak mereka menjadi pengguna pedang-dan-perisai. Karena kemudian akan ada tiga forward , termasuk diriku sendiri, dan guild ini akan menjadi sebuah kelompok yang timbang.
Pengguna tombak yang telah dipercayakan kepadaku adalah seorang gadis pendiam dengan rambut hitam sepanjang bahu bernama Sachi. Saat kami pertama kali dikenalkan, dia berkata, dengan tersenyum malu, bahwa walaupun dia telah lama menjadi gamer, dia belum dapat berteman dengan banyak orang karena kepribadiannya. Setiap kali tidak ada kegiatan guild, aku bepergian dengannya dan mengajarinya bagaimana menggunakan single-handed-sword.
Sachi dan aku memiliki kemiripan dalam banyak hal. Kami berdua sama-sama canggung dalam bersosialisasi, memilih untuk memagari diri sendiri, akan tetapi takut akan kesendirian.
Lalu suatu hari, dia tiba-tiba memberitahukanku bahwa dia takut akan kematian, bahwa dia merasa sangat takut akan permainan kematian ini sehingga dia tidak mau pergi keluar dan berlatih.
Sebagai jawaban atas pembukaan rahasianya, aku hanya dapat mengatakan “Aku tidak akan membiarkanmu mati.” Aku tidak dapat mengatakan apapun kepadanya karena aku masih mencoba untuk menyembunyikan levelku. Setelah dia mendengar jawabanku, dia menangis sedikit sebelum memaksakan diri untuk tersenyum.
Pada hari yang lain, beberapa waktu kemudian, kami berlima, semua anggota guild kecuali Keita, pergi kedalam sebuah labirin. Keita tidak ikut karena dia sedang pergi untuk menawar sebuah rumah untuk digunakan sebagai markas utama kami dengan uang yang telah berhasil kami tabung.
Walaupun labirin yang kami datangi sudah diselesaikan, masih terdapat beberapa area yang belum dijelajahi di dalamnya. Salah satu dari kami menemukan sebuah peti harta ketika kami bersiap-siap untuk pergi. Aku menyarankan yang lain untuk tidak menghiraukan peti itu, karena kami berada di dekat garis depan sehingga monster yang ada memiliki level yang tinggi. Selain itu, aku tidak mempercayai trap dismantling skill dari anggota guild. Tetapi karena hanya Sachi dan aku yang menolak untuk membuka peti harta itu, kami kalah dalam voting 3 banding 2.
Jebakan yang ada adalah tipe alarm, salah satu dari tipe-ripe terburuk dari jebakan yang ada. Segera sesudah kami membuka peti itu, sebuah alarm yang memekakkan telinga berbunyi, dan monster mulai mengalir masuk dari semua pintu masuk kedalam ruangan itu. Kami segera berusaha untuk kabur dengan ber-teleport.
Tetapi ternyata jebakannya berlapis dua. Ruangan itu juga adalah Anti-Crystal Area- sehingga kristal-kristal milik kami tidak berfungsi.
Di sana sungguh-sungguh terdapat terlalu banyak monster untuk ditahan. Anggota-anggota yang lain jatuh dalam kebingungan total dan berlarian tanpa tujuan. Aku mencoba untuk membuka jalan dengan menggunakan teknik pedang tingkat tinggi yang telah aku sembunyikan hingga seakrang, tetapi para anggota yang panik tidak dapat melarikan diri pada waktunya. Satu per satu, HP mereka jatuh ke angka nol, dan mereka berteriak sebelum meledak menjadi kepingan-kepingan. Aku berpikir setidaknya aku dapat menyelamatkan Sachi dan mengayunkan pedangku tiada henti.
Tetapi hal itu sudah terlambat. Aku melihat Sachi berusaha menggapaiku dengan tangannya sementara sebuah monster memotongnya dengan tanpa ampun. Kedua matanya tetap mempercayaiku bahkan ketika dia terpecah seperti sebuah patung kaca dan menghilang. Dia telah mempercayaiku dan bergantung padaku hingga akhir; tetapi karena kata-kataku sangat lemah dan dangkal, mereka telah menjadi tidak lebih dari sebuah janji kosong, sebuah kebohongan.
Keita telah menunggu kami di dalam penginapan yang telah digunakan sebagai markas sementara kami dengan kunci dari markas utama baru di tangannya. Setelah kembali kedalam penginapan seorang diri, aku menjelaskan kepada Keita tentang apa yang terjadi. Dia terus mendengarkan tanpa suara hingga aku selesai, lalu bertanya kepadaku:
"Bagaimana kamu selamat?”
Lalu aku mengungkapkan levelku yang sesungguhnya dan bahwa aku telah menjadi beta tester.
Keita melotot kepadaku seakan-akan aku adalah sesuatu yang menjijikkan, lalu berkata satu hal.
-Seorang beater sepertimu tidak mempunyai hak apapun untuk bergabung dengan kami.
Kata-kata itu telah menusuk menembusku seakan-akan mereka adalah sebuah pedang baja.

"...apa yang terjadi... dengan orang itu...?”
"Dia bunuh diri.”
Tubuh Asuna bergetar di atas kursinya.
"Dia melompat dari pinggir lantai. Kemungkinan besar mengutukiku...hingga saat-saat terakhirnya...”
Aku merasakan tenggorokanku menyempit. Sementara aku menghitung-hitung kembali ingatan-ingatan itu yang telah aku kunci jauh di dalam lubuk hatiku, emosi-emosi yang menyakitkan dari waktu itu kembali dengan kemurnian yang sempurna. Aku menggertakan gigiku. Walaupun aku ingin menggapai Asuna untuk penghiburan, sebuah suara di dalam pikiranku berbisik, “kamu tidak mempunyai hak untuk melakukan hal itu,” yang meninggalkanku dengan satu-satunya pilihan untuk mengepalkan kepalan tanganku dengan erat.
"Aku telah membunuh mereka. Bila aku tidak menyembunyikan fakta bahwa aku adalah seorang beta tester, aku pasti akan dapat membujuk mereka untuk tidak menghiraukan peti itu. Yang melakukannya adalah aku... Akulah yang telah membunuh Keita... dan Sachi...”
Dengan kedua mataku terbuka lebar, aku memaksakan kata-kata ini keluar dari gigiku yang bergemeretak.
Asuna tiba-tiba berdiri, mengambil dua langkah ke arahku, dan mengusap wajahku dengan kedua tangannya. Dia menarik wajahnya yang cantik lebih dekat ke arahku dengan sebuah senyum hangat.
"Aku tidak akan mati.”
Dia mengatakan hal itu dengan berbisik, akan tetapi suara itu terdengar sangat jelas. Aku merasa kekuatan meninggalkan tubuhku yang tegang.
"Karena, aku... aku adalah seseorang yang akan menjagamu.”
Setelah mengatakan hal ini, Asuna membawa kepalaku ke dadanya dan memeluknya. Aku merasakan sebuah kegelapan yang lembut dan hangat menutupiku.
Sementara aku menutup kedua mataku, pikiranku menembus selubung gelap dari ingatanku dan melihat wajah-wajah dari anggota Black Cat; mereka semua duduk di sebuah meja penginapan, bermandikan dengan sebuah cahaya oranye.
Aku tidak dapat dimaafkan. Aku tidak akan pernah dapat membayar harga dari kesalahan-kesalahanku.
Akan tetapi walaupun begitu, wajah-wajah yang menetap di ingatanku kelihatannya tersenyum.

Pada hari berikutnya, aku memakai mantel yang sangat putih menyilaukan itu dan pergi dengan Asuna menuju Grandum pada lantai 55.
Mulai hari ini, aku akan memulai tugasku sebagai anggota guild Knights of the Blood. Akan tetapi, berlawanan dengan kelompok biasanya yang beranggotakan lima-orang, Asuna memanfaatkan wewenangya dan memperbolehkan kami untuk membuat kelompok dua-orang; jadi dalam kenyataannya, hal ini tidak berbeda dengan kemarin.
Tetapi perintah yang menunggu kami di dalam markas utama benar-benar tidak terduga.
"Latihan...?
"Ya. Kita akan membuat kelompok berisika empat orang dan pergi melalui area labirin dari lantai lima-puluh-lima hingga kita mencapai area tempat tinggal di lantai lima-puluh-enam.”
Pria yang mengatakan hal ini adalah salah satu dari empat pria lain yang berada di rapat ketika aku berbicara dengan Heathcliff, Dia adalah seorang pria besar dengan ikal rambut pirang tebal dan kelihatan seperti seorang pembawa kapak.
"Tunggu, Godfree! Kirito-kun akan...”
Sementara Asuna mulai berdebat, Godfree mengangkat sebelah alisnya dan menjawab denga sebuah suara, yang percaya diri, bila bukan angkuh.
"Bahkan sang wakil-ketua harus mengikuti aturan. Aku tidak keberatan mengenai kelompok yang dia ikuti untuk penjelajahan. Tetapi sebagai pemimpin dari pasukan pelopor , aku harus menguji kemampuannya. Bahkan bila dia adalah seorang pengguna unique skill, kita tidak benar-benar tahu apakah dia akan berguna bagi kita.”
"D-dengan kekuatan Kirito-kun, tidak mungkin dia akan menjadi sebuah gangguan...”
Aku menenangkan Asuna yang gelisah sebelum berkata:
"Bila kamu ingin melihat, maka aku akan menunjukkanmu. Tetapi aku tidak ingin membuang-buang waktu pada labirin level rendah seperti itu. Apakah bergegas melaluinya dalam satu kali perjalanan akan kamu setujui?”
Godfree menutup mulutnya dengan ekspresi tidak senang. Lalu dia pergi setelah berkata:
"Berkumpul di gerbang kota sebelah barat dalam tiga puluh menit.”
"Sikap macam apa itu!?”
Asuna menendang sebuah pilar baja dengan sepatunya karena jengkel.
"Maafkan aku, Kirito-kun. Mungkin akan lebih baik bila kita telah melarikan diri...”
"Bila kita melakukan hal itu, semua anggota dari guild akan secara bersama-sama mengutukku hingga mati.”
Aku tersenyum dan dengan bercanda memukul kepala Asuna.
"Uuuu, Aku berpikir bahwa kita akan bersama hari ini... haruskah aku pergi bersamamu...?”
"Aku akan segera kembali. Tunggulah di sini.”
"Yeah... hati-hati...”
Asuna mengangguk dengan enggan. Setelah melambaikan tanganku ke arahnya, aku berjalan keluar dari markas besar.

Tetapi ketika aku tiba di tempat yang telah— gerbang sebelah barat dari Aku melihat sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Di sebelah Godfree berdiri orang yang paling tidak ingin aku temui di dunia ini Kuradeel.